November 07, 2016

Float - 3

winonsky.sunnypillow

I could never find the right way to tell you
Have you noticed I've been gone?
Cause I left behind the home that you made me
But I will carry it along
Porter Robinson & Madeon – Shelter

Zol.

Suasananya riuh, ramai, dan hangat. Semua temannya pun berteriak dan berseru sembari mereka berhamburan keluar dari ruangan ujian terakhir dalam masa SMA mereka. Ujian Nasional telah selesai dan layaknya anak SMA, semua orang pun akhirna bersumpah untuk tidak membuka buku pelajaran SMA lagi. Sebagian dari kawan Zol pun memutuskan untuk berjalan-jalan, menghabiskan waktu agar dapat melupakan soal aneh yang menurut mereka tidak sesuai dengan kisi-kisi yang diberikan pada tempat les mereka. Sebagian lainnya hanya ingin kembali ke rumah untuk tidur karena mereka begadang semalaman untuk hari penting ini. Semua orang segera pergi menuju destinasi masing-masing dan Zol hanya berdiri terdiam ditengah lapangan basket SMA, merasa kesepian.

Setelah beberapa lama, Zol pun akhirnya melempar tas nya ke pinggir lapangan basket dan berlari untuk mengambil bola basket dalam keranjang bola. Beberapa menit kemudian Zol kembali dengan sebuah bola basket ditangannya.

Zol mendribble bola itu dan mengatur jaraknya dengan ring. Dia pun mencoba melakukan three point. Kalau masuk, batin Zol, gue bakalan main basket sampe diusir satpam. Kalau gak masuk, gue bakalan pulang. Zol pun mengambil ancang-ancang dan melempar bola basketnya.

Dang!

Bola basket itu pun di block oleh seorang lelaki yang telah lama tak dijumpainya. Dengan postur tubuh yang cukup jangkung dan badan yang cukup besar, kehadiran orang tersebut cukup membuat Zol terkaget setengah mati.

"Kok gak pulang?"
Zol pun memalingkan matanya dari mata orang tersebut, "Mau main basket dulu baru pulang ke Alam Sutera."
"Maksud gua, pulang ke rumah gua."

Zol pun kembali terdiam. Orang tersebut pun berjalan menuju bola basket yang terpantul cukup jauh akibat kekuatan tangannya. Zol pun berlari kearah tasnya, mengambil tas tersebut, dan berjalan menuju gerbang sekolah.

"Jadi kerjaan lu kabur begini, Zol?"

Zol terus berjalan menuju arah gerbang sekolah. Dia tidak peduli sama sekali dengan kalimat yang keluar dari mulut orang itu.

"Kalau alasannya gara-gara Kre gua paham, Zol!"

Langkah kaki Zol pun terhenti.

"Tapi bukan berarti lu jadinya ninggalin orang-orang penting lainnya dalam hidup lu. Abang kangen sama lu, Jing. Papa sama Mama juga. Gua aja masih main ke Ayah sama Ibu, masa lu gak main balik?"

Zol tidak bergeming dari tempatnya berpijak.

"Pulang, Zol. Delapan bulan udah cukup buat lu ngejauh dari kita-kita."

Zol pun melempar kembali tasnya kearah lapangan sembari berlari menuju orang tersebut. Orang itu pun mendribble bola basket dengan cukup intens dan mencoba memblock tubrukan badan Zol yang hampir membuatnya kehilangan keseimbangan. Perebutan bola basket itu pun terjadi cukup sengit dan berakhir dengan bola basket yang memasuki ring dari tangan Zol.

"Three point," ujar orang itu sambil menepuk punggung Zol.
"Ayo, Bang Equi, kita pulang."

Kre.

Kopi dingin itupun terasa menyejukkan di tenggorokan Kre. Jam telah menunjukkan waktu pukul 00.12 dan Kre masih termenung memandangi kanvas kosong didepannya yang seharusnya dia lukis dengan bayangannya akan mimpi.

Kre bingung setengah mati. Hal apa yang harus dia lukiskan pada kanvas itu. Kata mimpi itu sendiri belakangan ini menjadi sebuah kata yang tidak enak didengar pada kuping Kre.

Hal itu disebabkan karena belakangan ini Kre selalu memimpikan Zol.

Kre pun mengacak rambut panjangnya dan mencoba melupakan Zol dari kepalanya. Semenjak percakapan terakhir mereka, Kre menjadi sering tidak fokus dalam mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Percakapan aneh itu kemudian selalu menjadi alasan Kre untuk mencari ketenangan walaupun dia diliputi banyak deadline.

Kre kembali menyeruput kopi dingin itu dan memandangi kanvas putih yang berada didepannya.

---

"Halo?"

Kre tidak mendengarkan jawaban dari kalimat sapaannya. Jantung Kre pun perlahan mulai berdegup kencang.

"Halo?" ulang Kre dengan nada yang lebih pelan.
"Halo, Kre."

Kre menatapi profile picture Skype dari Zol. Terdapat gambar Zol yang tersenyum tipis. Kre pun turut tersenyum.

"Ada apa?" tanya Kre dengan nada agak antusias.
"Gapapa. Kamu apa kabar?" jawab Zol diujung sana.
"Baik. Kamu?"
"Baik juga."

Suasana pun kembali hening.

"Kalau di Amerika sekarang tanggal berapa?"

Kre pun tertawa dengan lepas mendengar pertanyaan itu. Dengan cepat Kre pun menjawab, "Dua puluh Maret."

"Oh. Sama berarti kayak Indonesia."
"Emangnya kenapa kalau sama?"
"Gapapa. Tandanya kamu udah ulang tahun juga."

Kre pun kembali tersenyum sambil memainkan tali hoodienya.

"Selamat ulang tahun, Zol."
"Iya, terima kasih."
"Kamu gak mau ngucapin aku balik?"
"Ucapin apa?"
"Ulang tahun."
"Enggak."

Kre pun mencoba menahan tawanya dengan sikap kekanak-kanakan dari sahabatnya ini.

"Kenapa?"
"Aku mau ngomong yang lain aja."
"Mau ngomong apa emang?'
"Kre.."
"Ya?"
"Zolan butuh Kre saat ini."

Kre pun berhenti memainkan tali hoodie dan terdiam mendengarkan lanjutan telepon dari sahabatnya.

"Semuanya rasanya aneh. Tanpa kamu rasanya aneh. Aku tahu, aku yang menghilang duluan dari kamu, dan itu malah membuat semuanya aneh."

Kre dapat mendengar nada putus asa dari suara Zol. Dia mencoba untuk memejamkan mata dan mengambil napas panjang.

"Maaf. Lupakan. Aku sepertinya sedang tidak sehat. Selamat ulang tahun, Kre!"

Pip.

Telepon pun terputus, meninggalkan Kre dengan segenang air mata yang mengalir secara tiba-tiba.

Zol.

Bang Equi kembali menawarkan Zol permen pedas yang ada dikantung celananya untuk kesekian kalinya. Dan, untuk kesekian kalinya juga, Zol pun menolak pemberian permennya.

"Kenapa sih lu nolak mulu. Udah terima aja."
"Orang gua gak kepengen kenapa lu paksa sih, Bang!"
"Yaelah udah ambil aja satu biar gua bisa fokus nyetir juga nih."

Zol pun mencibir dan mengambil satu permen dari tangan Bang Equi.

"Tumben banget, Bang, beli yang rasa mint. Bukannya lu suka yang rasa-rasa buah gitu, ya?"
"Iya gue beli yang itu soalnya Kre sukanya itu."

Zol kembali terdiam mendengar nama Kre disebutkan secara berulang-ulang dalam dua jam ini.

Bang Equi pun memukul kepala Zol dengan pelan, "Yaelah ini bocah satu galau aja mulu. Yang kangen sama Kre bukan lu doang woy."

Zol pun memalingkan mukanya kearah jendela tempat dia duduk. Bang Equi pun melanjutkan ceramah panjangnya mengenai arti dari kerinduan. Kembali, Zol tidak peduli. Pikirannya melayang kearah momen malam ulang tahunnya dan Kre, dimana akhirnya dia mengutarakan kerinduannya akan Kre.

Menurut Zol, itu sudah melewati batas yang telah Zol terapkan kepada dirinya.

Apa gunanya mencoba untuk membiasakan diri untuk menjauhkan diri dari sesorang selama tujuh bulan dan kemudian menghancurkan usaha tersebut dengan kalimat terbodoh yang bisa diucapkan seorang Zolan Derman Hilfas dalam catatan sejarah hidupnya?

Zol hanya dapat terdiam. Dia merasa bodoh setiap kali mengingat kejadian itu terjadi. Betapa anehnya dirinya setelah itu untuk berlari keluar balkon kamarnya dan berteriak sekeras mungkin hingga anjing tetangga sebelah pun menggonggonginya. Sebagai lelaki dia merasa bodoh.

"Woy, Zol, jangan kacangin gua dong! Mikirin Kre mulu lu."

Zol hanya memutar pandangan matanya sembari membatin dalam hati, bodoh.


Asrama Rumah Kepemimpinan
Monday, 7th November 2016

12.49 AM

November 05, 2016

Help.

winonsky.sunnypillow

I’m starting to feel like I’ve had enough.

How do I put this.

Today I woke up with like zero intention to actually go out or stuff. And I did. I was again “dropped” and not being able to do anything.

Maybe the right term isn’t not being able but not wanting to do anything at all.

Seriously. I spent the whole day just sleeping. Literally taking a break of everything. My skin didn’t touch the sunlight today and I’m kinda getting weirded out about it.

I left like five events that I should be attending and I was like “yeah whatever am not going anywhere today”.

Weird. So unlike me.

I even postpone my tasks and assignments. I just don’t feel like doing stuffs.

What is happening to me?

Help.

I guess this happens since I was exposed with tons of feelings for the past few weeks and I haven’t like truly gotten a break out of it. Haven’t truly sing or laugh or smile or whatever. My mind just keeps on thinking on stuffs and I got no time to actually enjoy stuffs along the way.

Which is bad.
Which is so not me.
Which is resulting into this a day breakdown.

Don’t ask me, sometimes I don’t even understand myself. Sometimes I get all pumped up wanting to learn this and that, multitasking, completing every shit that people gave to me.

And at times I’m like today: not wanting to do anything at all.

Geez I need videogames.
And chocolate.
And ice-cream.
And my mom.
And a hug.
And my blanket.
And Porter Robinson and Madeon’s live show in front of me.

Geez seriously I’m like madly in love with Shelter (Porter Robinson and Madeon’s product of a collaboration between them two). Can’t stop hearing it. It actually describes my feelings nowadays too though, my need of a shelter out of everything that I’m dealing with right now.

Maybe I’m just being childish right now.

I just need some love, that’s all.

Huft.


Help.