October 29, 2016

RKDiaries - Cucian Piring dan Oktober 2016 Saya (Pemaknaan Asrama Oktober 2016)

winonsky.sunnypillow

Setiap piket publik ataupun dorms’ day, masalah utama yang akan dihadapi oleh seorang Tiara angkatan 8 hanyalah satu: cucian piring.

Ada aja Tiara yang lupa buat nyuci piring.

Suka heran sama situasi seperti itu. Tiap kebagian piket wastafel dan tempat cuci piring pasti ada aja mulu nyeletuk macam “ya Allah aku sayang Tiara karena Allah tapi kenapa susah amat buat mereka cuci piring ya Allah”, “ya Robbi mereka keluarga saya ya Allah saya harus ikhlas”, “ikhlas, Win, ikhlas”, “pahala Win nyuciin piring orang”, “abis ini makan cokelat ya”, atau apapun itu yang terkadang terdengar sedih, menyakitkan, atau hiburan ala kadarnya dari diri saya sendiri untuk diri saya juga.

Gimana, ya. Tinggal nyuci piring doang gitu loh. Gak nyampe sejam. Sepuluh menit juga enggak (kalau misalnya cucian piring dia gak numpuk). Seberapa susahnya sih, Tiaraku yang kusayang hingga surge Allah nantinya. Seberapa susahnya.

Akan tetapi, pasti otak ini selalu berlaku adil pada setiap situasi yang saya alami.

Entahlah ini penyakit manusia yang terlalu objektif atau terlalu relatable atau terlalu empatik atau terlalu kontradiktif. Sebut saja semau kalian karena memang sifat saya yang terlalu mudah paham perasaan orang lain dan mengubah sudut pandang saya yang dengan sangat cepat ini yang selalu menjadi penengah dari sikap saya yang terkadang terlanjur one-sided terhadap suatu hal.

Tapi saya mau pengakuan dosa dulu: saat bulan pertama saya di asrama, saya gak pernah cuci piring. Gak pernah.

Jadi disini saya pun akhirnya merefleksikan diri saya dan Tiara yang gak sempet cuci piring itu. Saya telaah kembali kenapa mereka bisa gak cuci piring. Apakah karena mereka merasa akan ada Tiara lain yang mencucikan seperti apa yang saya pikirkan dua bulan yang lalu? Apakah mereka terburu-buru dan lupa untuk mencuci piring karena dikejar deadline tugas atau kuliah pagi seperti saya dahulu juga? Apakah mereka terlanjur nyaman dengan suasana asrama sehingga mereka bersikap seenaknya? (enggak, saya kalau dirumah rapih kok jadi yang ini gak kayak saya juga)

Saya selalu mencoba memahami tiap kejadian yang diberikan oleh Allah SWT kepada saya dari sisi yang berbeda. Alhamdulillah, bulan Oktober ini merupakan bulan terpadat saya selama saya kuliah di FKM tiga semester ini. Ada acara puncak dari Penerimaan Mahasiswa Baru 2016 yaitu Pariwisata Islami (Paris) 2016 selama 3 hari. Setelah Paris 2016, dua sabtu depannya pun saya sibuk dengan Bakti Sosial Pas OKK (Bakpao) FKM UI 2016. Di minggu terakhir Oktober ini pun saya mulai mengejar ketertinggalan saya dalam materi UTS karena akhirnya FKM telah memasuki hari-hari UTS yang sangat panjang. Tidak lupa juga saya harus belajar lebih untuk lomba OIM kuis demi mengharumkan nama FKM dalam ajang lomba adu kepintaran se-UI.

Produktif ya?

Saya harap sih begitu.

Kenyataannya, beda.

Oktober 2016 ini justru saya sering sakit. Saya sering nge-drop karena badan yang terlalu sering dipaksakan untuk begadang dan melakukan hal-hal lainnya. Setiap hari saya selalu pergi keluar dari asrama RK dan pulang malam-malam mendekati jam malam dari asrama Tiara. Saya di RK buat tidur dan acara asrama doang. Jarang banget menetap di asrama. Jarang banget. Efek kelas pagi dan aktivitas non-akademis yang selalu menuntut perhatian lebih.

Wah, branding saya di FKM sangat baik, loh. Saya tidak ingin jemawa atau bersikap sombong, namun manusia FKM sangat senang ketika mereka melihat saya masih berkeliar malam-malam di FKM buat latihan kuis. Mereka senang melihat saya berurusan dengan mahasiswa baru ketika rapat intervensi. Mereka senang ketika saya bercerita mengenai kesibukan saya di Paris yang villa-nya luas dan harapan-harapan saya atas kebahagiaan dari mahasiswa baru FKM UI 2016 dalam menuntut ilmu rukhiyah.

Namun, saya rasa, branding saya di asrama RK yang mulai menurun.

Saya ketiduran mulu. QL telat bangun. Kerjaannya begadang. Izin-izinan acara mulu. Denda piket numpuk.

Saya pun berkesimpulan bahwa branding saya sama halnya seperti cucian piring yang saya bicarakan diatas sebelumnya.

Untuk yang punya piring, pikirannya sudah tenang. Piringnya sudah di tempat cuci piring, nanti sore tinggal cuci. Kalau enggak, palingan nanti ada yang nyuciin. Yang penting pikiran saya hari itu tenang. Gak perlu repot-repot mikirin cuci piring yang gak penting. ---- Untuk manusia FKM, saya sangat aktif. Saya sibuk pada acara-acara FKM, menunjukkan komitmen saya dengan baik. Kalau saya tidak komitmen, yang penting saya sudah mau berkontribusi. Yang penting saya di FKM. Gak ngilang gak jelas kemana tau gara-gara masuk RK.

Untuk yang piket (seperti saya), dia merasa terbebani. Ini tanggung jawab siapa dan kenapa dia yang mengerjakan. Yang piket pun mengerjakannya dengan ikhlas dan mencoba berbicara baik-baik kepada teman-teman Tiara agar tidak tersinggung hatinya. ---- Untuk pihak asrama RK (terlebih Muffin, mungkin), dia merasa bingung. Ini Tiara satu kemana dan kenapa dia tidak laporan atau izin mepet-mepet mulu. Pihak asrama pun mencoba memaklumi segudang aktivitas saya dan selalu dengan sabar mengingatkan saya agar saya makin paham sama RK di masa-masa internalisasi ini.

Untuk piringnya, dia tidak bersalah. Dia dipakai oleh yang punya piring untuk makan (hal yang berguna) yang menyebabkan dirinya menjadi kotor. Hanya saja, yang punya piring hanya memiliki niatan untuk membersihkan piring tersebut. Sayangnya, piring tersebut terlalu sering dibersihkan oleh yang piket ketimbang yang punya piring. ---- Untuk diri saya sendiri, saya merasa ini pengaruh aktivitas saya. Saya terlalu sibuk di FKM, melakukan hal yang berguna, yang menyebabkan diri saya menjadi sibuk. Hanya saja, saya mengira FKM dapat mengapresiasi saya lebih/mendukung segala perbuatan saya dengan sepenuh jiwa. Sayangnya, saya malahan jadi jauh sama Allah SWT karena kesibukan saya sehingga orang-orang asrama yang sering memback-up diri saya dalam hal rukhiyah saya.

Agak ngebingungin ya tapi dinyambung-nyambungin aja masuk lah ya wkwk #maksa.

Pemaknaan asrama saya bulan ini cukup keras. Tanggung jawab saya kepada Allah SWT taruhannya dan saya dengan mudahnya melalaikan hal tersebut dengan alasan prioritas. Kesadaran diri saya untuk memprioritaskan agama saya ketimbang keperluan diri saya yang masih perlu dibangkitkan. 

Sudah terlalu sering saya mendapat tamparan keras dari teman-teman asrama saya bulan ini. Mulai dari area pribadi saya yang tidak rapih (which, in my defense, sebenarnya bukan urusan mereka karena sebutannya aja area pribadi jadi harusnya suka-suka saya dong mau kayak gimana?!?!?!?!?! Tapi saya sekamar berenam sih jadi memang harus rapih demi kepentingan bersama ehehehe #sadardiri), lalu interaksi saya dengan ikhwan yang terlalu dekat (which is, sekali lagi, in my defense, GAK DEKET-DEKET AMAT KOK. Heu. Seriusan. Hmmm mungkin saya harus mulai menjaga hijab lagi. Keseringan bergaul sama lelaki begini nih jadinya-_-), lalu baju saya yang dikatakan terlalu membentu tubuh (which is, emang. HAHA. *gak ngeles lagi*), lalu saya yang telat jam malam mulu hingga akhirnya diberikan hukuman lain, dan hal-hal perintilan lain yang gak penting tapi berefek besar dalam kehidupan pribadi saya.

Ketika Leadership Coaching Forum dilaksanakan, saya juga mendapatkan tamparan keras. Ketika Kak Diah, Presiden Tiara Kabinet Harmonis, memiliki kompetensi dalam dirinya yang bernilai kisaran 6-8 semuanya, ada empat kompetensi diri saya yang masih menduduki nilai 3. Ironisnya, salah satunya adalah kompetensi visi.

Yak, betul.

Manusia yang selama ini sibuk ngapa-ngapain di luar maupun dalam kampus ini belum tahu dia mau jadi apa.

Ironis, sungguh ironis.

Balik lagi ke topik ya.

Pemaknaan asrama bulan ini jadinya mengajarkan saya kembali mengenai arti sesungguhnya dari TANGGUNG JAWAB. Tanggung jawab yang selama ini ringan dimulut tapi berat untuk dilakukan. Mulai Oktober 2016 ini pun saya mulai piket dengan baik dan benar sebelum kuliah (walaupun jadinya menyebabkan diri saya untuk datang terlambat kuliah dan saya tidak diabsen oleh asisten dosen tercinta karena menurut beliau kalau telat udah dihitung absen). Saya mulai memperhatikan keadaan-keadaan asrama saya (khususnya keadaan Tiara yang lagi piket EHEHEHE).

Yang jelas, saya sedang mulai jatuh cinta kembali kepada asrama RK ini dmei kepentingan bersama kita berdua.

Hehe.
Asrama Rumah Kepemimpinan
29 Oktober 2016
3.10 AM

Lagi laper.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Typo ya? Bodo amat.

No comments:

Post a Comment