February 07, 2016

Float - 1

winonsky.sunnypillow


Hey, Mr. Airplane
Stop for a moment, there’s a lot of time
There’s tomorrow too so let her come off or let me go on
iKON – Airplane

Kre.

Terdengar bunyi ‘ding’ dan disertai suara pramugari melalui intercom. Seluruh penumpang pesawat pun melepaskan sabuk pengaman yang mereka kenakan selama pesawat take off tadi. Beberapa dari mereka juga melepaskan ear plug dan dua orang penumpang langsung beranjak dari tempat duduknya,  meluncur ke kamar mandi.

Kre pun turut melepaskan sabuk pengamannya. Dia membetulkan rambutnya yang sedikit berantakan karena turbulensi pesawat yang cukup keras saat take off tadi. Dia membuka tas kecilnya dan mengambil sebuah kaca kecil dari kantng dalamnya.

Masih cantik, ujar Kre dalam hati. Bisa gawat kalau rambutku hancur total. Kesan pertama itu segalanya. Gak mungkin kan kalau gue ketemu mentor kampus gue dengan dandanan berantakan. Kenapa turbulence-nya sebegitu kerasnya sih. Tidak biasanya.

Kre menyandarkan punggungnya ke jendela di sebelah kirinya. Dia menatap kosong ke TV kecil yang berada didepannya. Tayangan yang disajikan merupakan serial kartun yang sering ditonton oleh dia dan adiknya. Namun, hal itu sama sekali tidak menarik perhatiannya sama sekali. Pikirannya tidak terbang bersama pesawat yang dia naiki itu. Pikirannya tertinggal di bandara, dimana dia tidak menemukan Zol dikerumunan sahabat serta keluarga yang mengantarnya pergi ke negeri paman sam itu.

Zolan Derman Hilfas. Lelaki ketiga terlama, setelah Papa dan Bang Equi, yang berada dalam sejarah kehidupannya. Mereka dipertemukan sejak bayi oleh Tuhan dengan  insiden suster yang salah memberikan bayi kepada kedua orangtua mereka. Dari sana, kedua orangtua mereka berkenalan dan menjadi sahabat karib.

Zolan, yang lebih sering dipanggil Zol, merupakan sahabat karibnya. Mereka sangat dekat sedari kecil. Walaupun Zol berdomisili di Alam Sutera dan dirinya tinggal di Gandaria, tetapi sejak kecil kedua orangtua mereka selalu berjanjian untuk bertemu dalam melakukan hal-hal penting seperti imunisasi, ulangtahun pertama, talent show, dan leadership camp. Setelah sekian lama nya hanya bertemu ketika kedua orangtua mereka mempunyai agenda bersama, akhirnya mereka bisa bertemu saat SMA. Dengan memilih sebuah SMA yang terletak di daerah Ciledug, mereka pun menjadi lebih akrab selama tiga tahun belakangan ini.

Zol selalu ada pada momen-momen penting yang ada dalam hidup Kre. Saat dia menyanyi di talent show saat SD, saat dia memenangkan lomba melukis nasional, saat dia mengambil ujian mengemudinya. Zol selalu disana dan Zol selalu mengatakan hal yang sama, “Keren banget, Kre!”

Tapi tidak hari ini.

Zol tidak datang untuk mengucapkan salam perpisahan kepadanya. Padahal, Kre tidak akan kembali dalam jangka waktu yang dekat. Kre akan berkuliah di Amerika. Dia akan belajar menjadi seorang pelukis yang handal. Hal itu sangat penting untuk hidup Kre. Dan Kre yakin, Zol juga pasti tahu.

Kre pun menutup matanya dan mengingat kembali percakapan terakhir mereka. Mereka bertemu di lapangan basket SMA mereka, tempat Zol latihan setiap sabtu nya dengan timnya. Kre masih ingat betul apa yang mereka bicarakan.

“Kapan kamu pergi nya?”
“Hari Selasa, Zol.”
“……”
“Aku bakal kangen kamu.”
“Mmhm. Kamu hati-hati disana.”
“Iya.”

Memang bukan percakapan panjang dan seru yang biasanya mereka lakukan ketika bertemu. Hal itu terjadi semenjak Zol menemukan tiket pesawat Kre terjatuh dari tas sekolahnya. Setelah mengetahui bahwa Kre akan melanjutkan pendidikannya di Amerika, Zol berubah menjadi pendiam. Menurut  Kre ini wajar karena mungkin Zol merasa sahabat karibnya akan menghilang. Namun, Kre yakin bahwa Zol pasti tidak akan terlalu memikirkannya. Zol mempunyai banyak teman. Terlebih tim basketnya yang sangat akrab itu.

Kre pun memalingkan pandangannya ke jendela. Awan putih seperti kapas terbang mengikuti pesawatnya dengan seluruh kemampuan yang dia punya. Kre sudah jauh diatas langit. Jauh dari daratan dimana Zol berpijak.

Zol.

Rasanya seperti mengambang. Tubuh ini terhempas jauh melawan gravitasi, terombang-ambing dibawa angin tanpa tujuan yang jelas.

Zol memandangi pesawat Garuda Indonesia yang sudah terlihat sangat kecil dari pandangannya. Pesawat itu membawa Crescentia Fiji Putri, wanita yang selalu berada dipikirannya selama 18 tahun umur hidupnya. Zol pun menghela napasnya panjangnya dan tersenyum kepada langit biru yang mengepungi pesawat kecil itu.

Bukan bermaksud untuk menyakiti perasaan Kre, tetapi sejujurnya, yang sakit adalah perasaan Zol. Dia tidak sanggup menahan rasa kehilangan seorang wanita yang selalu menjadi spesial dimatanya. Menurut Zol, Kre itu jantungnya. Apapun yang dia lakukan akan dia laporkan kepada Kre, begitu juga sebaliknya. Ketika Zol tahu bahwa Kre akan pergi, Zol berani bersumpah bahwa saat itu jiwanya telah mati.

Zol pun mulai membiasakan diri untuk hidup tanpa Kre. Kedengarannya memang terlalu berlebihan, namun bagi Zol memang hal itu perlu. Zol akan kehilangan seseorang yang selama ini selalu ada untuknya. Hidupnya akan menjadi berbeda. Dia perlu latihan agar terbiasa dengan rasa kehilangan itu.

Jujur, Zol awalnya tidak ingin datang ke bandara. Menurutnya, perpisahan mereka adalah hari Sabtu lalu, saat Kre mendatangi latihan basketnya di sekolah. Melihat Kre berjalan keluar gerbang sekolah dengan tas sekolahnya merupakan pemandangan yang selalu dia lihat sepulang sekolah. Tetapi pada hari itu, Zol tahu itu akan menjadi pemandangan terakhir dari adegan itu.

Zol menyukai Kre. Dia tahu dan sadar akan hal itu, namun enggan menunjukkannya. Zol paham bahwa Kre mempunyai beberapa lelaki yang pernah menjadi orang paling spesial dalam hatinya dan Zol tahu bahwa kedudukannya dengan para lelaki itu berbeda. Zol adalah sahabatnya. Tidak lebih.

Zol sedikit menyesal untuk tidak bertemu Kre hari itu. Hari terakhir yang diberikan Tuhan untuk bertemu dengan Kre secara langsung. Zol pun membayangkan rambut panjang Kre yang selalu gampang kusut setelah perjalanan yang panjang. Dia membayangkan bagaimana Kre selalu tersenyum padanya disaat mereka terjebak hujan dibawah pos satpam sekolah. Dia membayangkan tulisan tangan Kre yang selalu rapih setiap kali dia menulis di papan tulis. Zol terus membayangkan Kre hinggadirinya jatuh pada sebuah titik dimana Zol tahu, bahwa dia yang akan rindu kepadanya lebih dari Kre merindukan dirinya.

Angin pun berhembus, menerpa poni rambut Zol. Bersamaan dengan hembusan angin itu, Zol memberikan sebuah senyuman terlebarnya kepada langit biru disertai dengan sebuah frasa khasnya yang selalu dia berikan kepada Kre setiap dia berhasil melakukan sesuatu yang besar dalam hidupnya.

“Keren banget, Kre.”

Asrama Universitas Indonesia
Sunday, 7th February 2016

18.57 PM

No comments:

Post a Comment