November 07, 2016

Float - 3

winonsky.sunnypillow

I could never find the right way to tell you
Have you noticed I've been gone?
Cause I left behind the home that you made me
But I will carry it along
Porter Robinson & Madeon – Shelter

Zol.

Suasananya riuh, ramai, dan hangat. Semua temannya pun berteriak dan berseru sembari mereka berhamburan keluar dari ruangan ujian terakhir dalam masa SMA mereka. Ujian Nasional telah selesai dan layaknya anak SMA, semua orang pun akhirna bersumpah untuk tidak membuka buku pelajaran SMA lagi. Sebagian dari kawan Zol pun memutuskan untuk berjalan-jalan, menghabiskan waktu agar dapat melupakan soal aneh yang menurut mereka tidak sesuai dengan kisi-kisi yang diberikan pada tempat les mereka. Sebagian lainnya hanya ingin kembali ke rumah untuk tidur karena mereka begadang semalaman untuk hari penting ini. Semua orang segera pergi menuju destinasi masing-masing dan Zol hanya berdiri terdiam ditengah lapangan basket SMA, merasa kesepian.

Setelah beberapa lama, Zol pun akhirnya melempar tas nya ke pinggir lapangan basket dan berlari untuk mengambil bola basket dalam keranjang bola. Beberapa menit kemudian Zol kembali dengan sebuah bola basket ditangannya.

Zol mendribble bola itu dan mengatur jaraknya dengan ring. Dia pun mencoba melakukan three point. Kalau masuk, batin Zol, gue bakalan main basket sampe diusir satpam. Kalau gak masuk, gue bakalan pulang. Zol pun mengambil ancang-ancang dan melempar bola basketnya.

Dang!

Bola basket itu pun di block oleh seorang lelaki yang telah lama tak dijumpainya. Dengan postur tubuh yang cukup jangkung dan badan yang cukup besar, kehadiran orang tersebut cukup membuat Zol terkaget setengah mati.

"Kok gak pulang?"
Zol pun memalingkan matanya dari mata orang tersebut, "Mau main basket dulu baru pulang ke Alam Sutera."
"Maksud gua, pulang ke rumah gua."

Zol pun kembali terdiam. Orang tersebut pun berjalan menuju bola basket yang terpantul cukup jauh akibat kekuatan tangannya. Zol pun berlari kearah tasnya, mengambil tas tersebut, dan berjalan menuju gerbang sekolah.

"Jadi kerjaan lu kabur begini, Zol?"

Zol terus berjalan menuju arah gerbang sekolah. Dia tidak peduli sama sekali dengan kalimat yang keluar dari mulut orang itu.

"Kalau alasannya gara-gara Kre gua paham, Zol!"

Langkah kaki Zol pun terhenti.

"Tapi bukan berarti lu jadinya ninggalin orang-orang penting lainnya dalam hidup lu. Abang kangen sama lu, Jing. Papa sama Mama juga. Gua aja masih main ke Ayah sama Ibu, masa lu gak main balik?"

Zol tidak bergeming dari tempatnya berpijak.

"Pulang, Zol. Delapan bulan udah cukup buat lu ngejauh dari kita-kita."

Zol pun melempar kembali tasnya kearah lapangan sembari berlari menuju orang tersebut. Orang itu pun mendribble bola basket dengan cukup intens dan mencoba memblock tubrukan badan Zol yang hampir membuatnya kehilangan keseimbangan. Perebutan bola basket itu pun terjadi cukup sengit dan berakhir dengan bola basket yang memasuki ring dari tangan Zol.

"Three point," ujar orang itu sambil menepuk punggung Zol.
"Ayo, Bang Equi, kita pulang."

Kre.

Kopi dingin itupun terasa menyejukkan di tenggorokan Kre. Jam telah menunjukkan waktu pukul 00.12 dan Kre masih termenung memandangi kanvas kosong didepannya yang seharusnya dia lukis dengan bayangannya akan mimpi.

Kre bingung setengah mati. Hal apa yang harus dia lukiskan pada kanvas itu. Kata mimpi itu sendiri belakangan ini menjadi sebuah kata yang tidak enak didengar pada kuping Kre.

Hal itu disebabkan karena belakangan ini Kre selalu memimpikan Zol.

Kre pun mengacak rambut panjangnya dan mencoba melupakan Zol dari kepalanya. Semenjak percakapan terakhir mereka, Kre menjadi sering tidak fokus dalam mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Percakapan aneh itu kemudian selalu menjadi alasan Kre untuk mencari ketenangan walaupun dia diliputi banyak deadline.

Kre kembali menyeruput kopi dingin itu dan memandangi kanvas putih yang berada didepannya.

---

"Halo?"

Kre tidak mendengarkan jawaban dari kalimat sapaannya. Jantung Kre pun perlahan mulai berdegup kencang.

"Halo?" ulang Kre dengan nada yang lebih pelan.
"Halo, Kre."

Kre menatapi profile picture Skype dari Zol. Terdapat gambar Zol yang tersenyum tipis. Kre pun turut tersenyum.

"Ada apa?" tanya Kre dengan nada agak antusias.
"Gapapa. Kamu apa kabar?" jawab Zol diujung sana.
"Baik. Kamu?"
"Baik juga."

Suasana pun kembali hening.

"Kalau di Amerika sekarang tanggal berapa?"

Kre pun tertawa dengan lepas mendengar pertanyaan itu. Dengan cepat Kre pun menjawab, "Dua puluh Maret."

"Oh. Sama berarti kayak Indonesia."
"Emangnya kenapa kalau sama?"
"Gapapa. Tandanya kamu udah ulang tahun juga."

Kre pun kembali tersenyum sambil memainkan tali hoodienya.

"Selamat ulang tahun, Zol."
"Iya, terima kasih."
"Kamu gak mau ngucapin aku balik?"
"Ucapin apa?"
"Ulang tahun."
"Enggak."

Kre pun mencoba menahan tawanya dengan sikap kekanak-kanakan dari sahabatnya ini.

"Kenapa?"
"Aku mau ngomong yang lain aja."
"Mau ngomong apa emang?'
"Kre.."
"Ya?"
"Zolan butuh Kre saat ini."

Kre pun berhenti memainkan tali hoodie dan terdiam mendengarkan lanjutan telepon dari sahabatnya.

"Semuanya rasanya aneh. Tanpa kamu rasanya aneh. Aku tahu, aku yang menghilang duluan dari kamu, dan itu malah membuat semuanya aneh."

Kre dapat mendengar nada putus asa dari suara Zol. Dia mencoba untuk memejamkan mata dan mengambil napas panjang.

"Maaf. Lupakan. Aku sepertinya sedang tidak sehat. Selamat ulang tahun, Kre!"

Pip.

Telepon pun terputus, meninggalkan Kre dengan segenang air mata yang mengalir secara tiba-tiba.

Zol.

Bang Equi kembali menawarkan Zol permen pedas yang ada dikantung celananya untuk kesekian kalinya. Dan, untuk kesekian kalinya juga, Zol pun menolak pemberian permennya.

"Kenapa sih lu nolak mulu. Udah terima aja."
"Orang gua gak kepengen kenapa lu paksa sih, Bang!"
"Yaelah udah ambil aja satu biar gua bisa fokus nyetir juga nih."

Zol pun mencibir dan mengambil satu permen dari tangan Bang Equi.

"Tumben banget, Bang, beli yang rasa mint. Bukannya lu suka yang rasa-rasa buah gitu, ya?"
"Iya gue beli yang itu soalnya Kre sukanya itu."

Zol kembali terdiam mendengar nama Kre disebutkan secara berulang-ulang dalam dua jam ini.

Bang Equi pun memukul kepala Zol dengan pelan, "Yaelah ini bocah satu galau aja mulu. Yang kangen sama Kre bukan lu doang woy."

Zol pun memalingkan mukanya kearah jendela tempat dia duduk. Bang Equi pun melanjutkan ceramah panjangnya mengenai arti dari kerinduan. Kembali, Zol tidak peduli. Pikirannya melayang kearah momen malam ulang tahunnya dan Kre, dimana akhirnya dia mengutarakan kerinduannya akan Kre.

Menurut Zol, itu sudah melewati batas yang telah Zol terapkan kepada dirinya.

Apa gunanya mencoba untuk membiasakan diri untuk menjauhkan diri dari sesorang selama tujuh bulan dan kemudian menghancurkan usaha tersebut dengan kalimat terbodoh yang bisa diucapkan seorang Zolan Derman Hilfas dalam catatan sejarah hidupnya?

Zol hanya dapat terdiam. Dia merasa bodoh setiap kali mengingat kejadian itu terjadi. Betapa anehnya dirinya setelah itu untuk berlari keluar balkon kamarnya dan berteriak sekeras mungkin hingga anjing tetangga sebelah pun menggonggonginya. Sebagai lelaki dia merasa bodoh.

"Woy, Zol, jangan kacangin gua dong! Mikirin Kre mulu lu."

Zol hanya memutar pandangan matanya sembari membatin dalam hati, bodoh.


Asrama Rumah Kepemimpinan
Monday, 7th November 2016

12.49 AM

November 05, 2016

Help.

winonsky.sunnypillow

I’m starting to feel like I’ve had enough.

How do I put this.

Today I woke up with like zero intention to actually go out or stuff. And I did. I was again “dropped” and not being able to do anything.

Maybe the right term isn’t not being able but not wanting to do anything at all.

Seriously. I spent the whole day just sleeping. Literally taking a break of everything. My skin didn’t touch the sunlight today and I’m kinda getting weirded out about it.

I left like five events that I should be attending and I was like “yeah whatever am not going anywhere today”.

Weird. So unlike me.

I even postpone my tasks and assignments. I just don’t feel like doing stuffs.

What is happening to me?

Help.

I guess this happens since I was exposed with tons of feelings for the past few weeks and I haven’t like truly gotten a break out of it. Haven’t truly sing or laugh or smile or whatever. My mind just keeps on thinking on stuffs and I got no time to actually enjoy stuffs along the way.

Which is bad.
Which is so not me.
Which is resulting into this a day breakdown.

Don’t ask me, sometimes I don’t even understand myself. Sometimes I get all pumped up wanting to learn this and that, multitasking, completing every shit that people gave to me.

And at times I’m like today: not wanting to do anything at all.

Geez I need videogames.
And chocolate.
And ice-cream.
And my mom.
And a hug.
And my blanket.
And Porter Robinson and Madeon’s live show in front of me.

Geez seriously I’m like madly in love with Shelter (Porter Robinson and Madeon’s product of a collaboration between them two). Can’t stop hearing it. It actually describes my feelings nowadays too though, my need of a shelter out of everything that I’m dealing with right now.

Maybe I’m just being childish right now.

I just need some love, that’s all.

Huft.


Help.

October 29, 2016

RKDiaries - Cucian Piring dan Oktober 2016 Saya (Pemaknaan Asrama Oktober 2016)

winonsky.sunnypillow

Setiap piket publik ataupun dorms’ day, masalah utama yang akan dihadapi oleh seorang Tiara angkatan 8 hanyalah satu: cucian piring.

Ada aja Tiara yang lupa buat nyuci piring.

Suka heran sama situasi seperti itu. Tiap kebagian piket wastafel dan tempat cuci piring pasti ada aja mulu nyeletuk macam “ya Allah aku sayang Tiara karena Allah tapi kenapa susah amat buat mereka cuci piring ya Allah”, “ya Robbi mereka keluarga saya ya Allah saya harus ikhlas”, “ikhlas, Win, ikhlas”, “pahala Win nyuciin piring orang”, “abis ini makan cokelat ya”, atau apapun itu yang terkadang terdengar sedih, menyakitkan, atau hiburan ala kadarnya dari diri saya sendiri untuk diri saya juga.

Gimana, ya. Tinggal nyuci piring doang gitu loh. Gak nyampe sejam. Sepuluh menit juga enggak (kalau misalnya cucian piring dia gak numpuk). Seberapa susahnya sih, Tiaraku yang kusayang hingga surge Allah nantinya. Seberapa susahnya.

Akan tetapi, pasti otak ini selalu berlaku adil pada setiap situasi yang saya alami.

Entahlah ini penyakit manusia yang terlalu objektif atau terlalu relatable atau terlalu empatik atau terlalu kontradiktif. Sebut saja semau kalian karena memang sifat saya yang terlalu mudah paham perasaan orang lain dan mengubah sudut pandang saya yang dengan sangat cepat ini yang selalu menjadi penengah dari sikap saya yang terkadang terlanjur one-sided terhadap suatu hal.

Tapi saya mau pengakuan dosa dulu: saat bulan pertama saya di asrama, saya gak pernah cuci piring. Gak pernah.

Jadi disini saya pun akhirnya merefleksikan diri saya dan Tiara yang gak sempet cuci piring itu. Saya telaah kembali kenapa mereka bisa gak cuci piring. Apakah karena mereka merasa akan ada Tiara lain yang mencucikan seperti apa yang saya pikirkan dua bulan yang lalu? Apakah mereka terburu-buru dan lupa untuk mencuci piring karena dikejar deadline tugas atau kuliah pagi seperti saya dahulu juga? Apakah mereka terlanjur nyaman dengan suasana asrama sehingga mereka bersikap seenaknya? (enggak, saya kalau dirumah rapih kok jadi yang ini gak kayak saya juga)

Saya selalu mencoba memahami tiap kejadian yang diberikan oleh Allah SWT kepada saya dari sisi yang berbeda. Alhamdulillah, bulan Oktober ini merupakan bulan terpadat saya selama saya kuliah di FKM tiga semester ini. Ada acara puncak dari Penerimaan Mahasiswa Baru 2016 yaitu Pariwisata Islami (Paris) 2016 selama 3 hari. Setelah Paris 2016, dua sabtu depannya pun saya sibuk dengan Bakti Sosial Pas OKK (Bakpao) FKM UI 2016. Di minggu terakhir Oktober ini pun saya mulai mengejar ketertinggalan saya dalam materi UTS karena akhirnya FKM telah memasuki hari-hari UTS yang sangat panjang. Tidak lupa juga saya harus belajar lebih untuk lomba OIM kuis demi mengharumkan nama FKM dalam ajang lomba adu kepintaran se-UI.

Produktif ya?

Saya harap sih begitu.

Kenyataannya, beda.

Oktober 2016 ini justru saya sering sakit. Saya sering nge-drop karena badan yang terlalu sering dipaksakan untuk begadang dan melakukan hal-hal lainnya. Setiap hari saya selalu pergi keluar dari asrama RK dan pulang malam-malam mendekati jam malam dari asrama Tiara. Saya di RK buat tidur dan acara asrama doang. Jarang banget menetap di asrama. Jarang banget. Efek kelas pagi dan aktivitas non-akademis yang selalu menuntut perhatian lebih.

Wah, branding saya di FKM sangat baik, loh. Saya tidak ingin jemawa atau bersikap sombong, namun manusia FKM sangat senang ketika mereka melihat saya masih berkeliar malam-malam di FKM buat latihan kuis. Mereka senang melihat saya berurusan dengan mahasiswa baru ketika rapat intervensi. Mereka senang ketika saya bercerita mengenai kesibukan saya di Paris yang villa-nya luas dan harapan-harapan saya atas kebahagiaan dari mahasiswa baru FKM UI 2016 dalam menuntut ilmu rukhiyah.

Namun, saya rasa, branding saya di asrama RK yang mulai menurun.

Saya ketiduran mulu. QL telat bangun. Kerjaannya begadang. Izin-izinan acara mulu. Denda piket numpuk.

Saya pun berkesimpulan bahwa branding saya sama halnya seperti cucian piring yang saya bicarakan diatas sebelumnya.

Untuk yang punya piring, pikirannya sudah tenang. Piringnya sudah di tempat cuci piring, nanti sore tinggal cuci. Kalau enggak, palingan nanti ada yang nyuciin. Yang penting pikiran saya hari itu tenang. Gak perlu repot-repot mikirin cuci piring yang gak penting. ---- Untuk manusia FKM, saya sangat aktif. Saya sibuk pada acara-acara FKM, menunjukkan komitmen saya dengan baik. Kalau saya tidak komitmen, yang penting saya sudah mau berkontribusi. Yang penting saya di FKM. Gak ngilang gak jelas kemana tau gara-gara masuk RK.

Untuk yang piket (seperti saya), dia merasa terbebani. Ini tanggung jawab siapa dan kenapa dia yang mengerjakan. Yang piket pun mengerjakannya dengan ikhlas dan mencoba berbicara baik-baik kepada teman-teman Tiara agar tidak tersinggung hatinya. ---- Untuk pihak asrama RK (terlebih Muffin, mungkin), dia merasa bingung. Ini Tiara satu kemana dan kenapa dia tidak laporan atau izin mepet-mepet mulu. Pihak asrama pun mencoba memaklumi segudang aktivitas saya dan selalu dengan sabar mengingatkan saya agar saya makin paham sama RK di masa-masa internalisasi ini.

Untuk piringnya, dia tidak bersalah. Dia dipakai oleh yang punya piring untuk makan (hal yang berguna) yang menyebabkan dirinya menjadi kotor. Hanya saja, yang punya piring hanya memiliki niatan untuk membersihkan piring tersebut. Sayangnya, piring tersebut terlalu sering dibersihkan oleh yang piket ketimbang yang punya piring. ---- Untuk diri saya sendiri, saya merasa ini pengaruh aktivitas saya. Saya terlalu sibuk di FKM, melakukan hal yang berguna, yang menyebabkan diri saya menjadi sibuk. Hanya saja, saya mengira FKM dapat mengapresiasi saya lebih/mendukung segala perbuatan saya dengan sepenuh jiwa. Sayangnya, saya malahan jadi jauh sama Allah SWT karena kesibukan saya sehingga orang-orang asrama yang sering memback-up diri saya dalam hal rukhiyah saya.

Agak ngebingungin ya tapi dinyambung-nyambungin aja masuk lah ya wkwk #maksa.

Pemaknaan asrama saya bulan ini cukup keras. Tanggung jawab saya kepada Allah SWT taruhannya dan saya dengan mudahnya melalaikan hal tersebut dengan alasan prioritas. Kesadaran diri saya untuk memprioritaskan agama saya ketimbang keperluan diri saya yang masih perlu dibangkitkan. 

Sudah terlalu sering saya mendapat tamparan keras dari teman-teman asrama saya bulan ini. Mulai dari area pribadi saya yang tidak rapih (which, in my defense, sebenarnya bukan urusan mereka karena sebutannya aja area pribadi jadi harusnya suka-suka saya dong mau kayak gimana?!?!?!?!?! Tapi saya sekamar berenam sih jadi memang harus rapih demi kepentingan bersama ehehehe #sadardiri), lalu interaksi saya dengan ikhwan yang terlalu dekat (which is, sekali lagi, in my defense, GAK DEKET-DEKET AMAT KOK. Heu. Seriusan. Hmmm mungkin saya harus mulai menjaga hijab lagi. Keseringan bergaul sama lelaki begini nih jadinya-_-), lalu baju saya yang dikatakan terlalu membentu tubuh (which is, emang. HAHA. *gak ngeles lagi*), lalu saya yang telat jam malam mulu hingga akhirnya diberikan hukuman lain, dan hal-hal perintilan lain yang gak penting tapi berefek besar dalam kehidupan pribadi saya.

Ketika Leadership Coaching Forum dilaksanakan, saya juga mendapatkan tamparan keras. Ketika Kak Diah, Presiden Tiara Kabinet Harmonis, memiliki kompetensi dalam dirinya yang bernilai kisaran 6-8 semuanya, ada empat kompetensi diri saya yang masih menduduki nilai 3. Ironisnya, salah satunya adalah kompetensi visi.

Yak, betul.

Manusia yang selama ini sibuk ngapa-ngapain di luar maupun dalam kampus ini belum tahu dia mau jadi apa.

Ironis, sungguh ironis.

Balik lagi ke topik ya.

Pemaknaan asrama bulan ini jadinya mengajarkan saya kembali mengenai arti sesungguhnya dari TANGGUNG JAWAB. Tanggung jawab yang selama ini ringan dimulut tapi berat untuk dilakukan. Mulai Oktober 2016 ini pun saya mulai piket dengan baik dan benar sebelum kuliah (walaupun jadinya menyebabkan diri saya untuk datang terlambat kuliah dan saya tidak diabsen oleh asisten dosen tercinta karena menurut beliau kalau telat udah dihitung absen). Saya mulai memperhatikan keadaan-keadaan asrama saya (khususnya keadaan Tiara yang lagi piket EHEHEHE).

Yang jelas, saya sedang mulai jatuh cinta kembali kepada asrama RK ini dmei kepentingan bersama kita berdua.

Hehe.
Asrama Rumah Kepemimpinan
29 Oktober 2016
3.10 AM

Lagi laper.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Typo ya? Bodo amat.

October 25, 2016

F^cked up

winonsky.sunnypillow

Hey, it's been awhile.
I've been gone for months on this blog without any stories or rants or thoughtful thinking or pure intentions on writing again to this blog. It's now mostly filled with RK stuffs. I kinda like it though so I don't have to think a lot harder on what to write on this blog but it makes me to keep more stories to myself since I usually spill everything out here.

Anyway, without further ado, here are my rants that I know you're missing for.

Yes, you can read the title, I'm a bit f^cked up this month. There's like committee issues and organisational stuffs and mid term exams and feelings and just pure self existentialism (yup, here we go again). We'll talk through those stuffs one by one in another post but let's talk about a recent situation that happened and triggered me to write this post through mobile. (second mobile attempt, yeay!)

Here's the thing, you don't agree on going out with someone, wait for them for more than an hour, and being told to just go home by that person.

Like what the f^ck dude.

You do not do that. Not to girls, not to friends, not to anyone, never.

You do not suddenly yell "Go home, Win, your night hour is up!"

Well excuse me for still waiting up for you when we were going to eat together discussung about end of committee sessions in this f^cking free time that I've spare for you. Ex-f^cking-cuse me.

Oh, and, excuse me to also just walk out storming through the common hall because I was mad and sad and trying not to show my f^cking ugly face to you two people when I'm holding up my tears not to fell.

I've had a rough day. Please, do not be my reason to breakdown.

I've had enough of outbreaks of tears. I hate to suddenly cry in the middle of nowhere and not being able to explain why because everything is actually fine when in my head it's not. It's not fine at all

But it is too late though for you to apologise or trying to make up for it to me since I've already bursting out my tears crying at one of the corridors while covering up my face so I don't look stupid.

Yes, I can cry. Did you forget that I also has feelings too?

Did you forget I also has other things to do BESIDES waiting for you being done through all of your chit-chats?

How long should I kept waiting for you? Don't you think I want to go back to my dorm so I can lay off because of how weird this day is?

I never show my weak sides to anyone, including you two, but why do you always test me to show it to both of you when I clearly don't want to?

Why do you guys kept test how far does my limits go?

Yes, I laugh a lot. It's very f^cking easy to made up with me because I clearly talk shit about stuffs and then move forward because I don't like to keep negative energy on my head. I'm not the type of person who'll actually keeps grudge on the dark side of my heart and eventually repays you with even worse of actions. I tried my best not to be that kind of person because I'd be a very dark person and I know how it was.

Trust me, you don't want to see that part of me. It's ugly.

I'm trying my best to keep up with you boys, really.

So please, please, please, please, please

Do not f^ck me up again.


Tuesday, 25th October 2016
21.19
Stressed the f^ck out

October 01, 2016

RKDiaries - Lowest of the Low

winonsky.sunnypillow


Please let me write this in English because I felt more comfortable if I write in English.

Anyway,

My second month in Rumah Kepemimpinan has already passed and here I am starting my third month along with all Ksatria-Tiara Angkatan 8. Trying to get a grip of things Trying to hold on to each other in case one of us needs some hand on things. We’re strengthening as a whole team and we’re facing all these challenges that this dorm gave us with a strong heart. We know we can do this and we chose to believe so.

This second month is actually quite different with the first one. Yes, I still don’t fit in with all these stuffs and the talks and the environment or even how to dress. I’m still a mess if you’re asking for a frank opinion. But I’m changing step by step so as long as I’m keeping it steady I guess it’ll end beautifully.

Going back to my statement before, yes, I do feel the second month is a lot harder than the first one.

Rules are starting to be straightened and people are getting fierce on stuff. Not just dormitory people but also at college, organization, committees, mentorship, and competitions. I feel like people are being so demanding this second month. I literally feel like I don’t have the time to actually stop and take a long relaxing breath. I am running out of breath while people are actually catching up towards all of my responsibilities.

People are being demanding and I don’t like it. I never liked demanding people, especially when it comes to some of my personal stuffs. Do not tell me how to open a cheese burger wrap when I can open it just as fine as you guys told me to. I mean come on it’s up to me if I want to open it in very weird and unusual way. It’s my cheese burger, don’t wreck it up for me.

That’s just a metaphor anyway it’s not like I’m a crazy maniac on cheese burger though (when I’m actually am).

Moving on,

In one of my courses at college I actually learned a thing called: COPING. One of the theories of using coping in a workplace is to actually apply coping as a problem solver rather than a last resort when it comes to psychosocial hazards. People are actually using coping in everyday lives and there’s no guidebook on what kind of coping styles or technique that you should actually use in a certain situation. Coping is how you deal with a problem as comfortable as you can until the problem itself doesn’t become a burden towards your well-being. Every people have their own techniques and you can’t judge those techniques as inappropriate or wrong. It’s all according to the person’s comfort towards how he/she copes to a problem.

And that’s a glimpse of my course that I am actually putting in this Pemaknaan Asrama task. Hmm. What has gotten to me…?

Anyway,

What I’m trying to tell you here is that I’m actually now starting to cope with the dormitory’s schedules and stuffs. I’m actually throwing a little of my dignity on laziness and self-comfort in order to do this dorm tasks as expected with the ROOMPK values that Rumah Kepemimpinan hopes us will implement.

And I’m doing it badly.

I’m actually now joining all the events on dorms and ask permissions in time. I’m starting to actually obey the rules (when I actually hate to do so). It’s a system that I need to respect and as I stated before in my last months’ Pemaknaan Asrama that I still need a very hard work to actually implement 3Rs to my life. I’m starting so please help me and give me critics. I don’t mind if you’re actually scolding me but I will defend myself if I think that what am doing is right or you’re just simply being too harsh on me.

So my dorm business is actually starting to get very well. There are elevations in some kinds of aspects but it’s still under the actual target that RK wants me to do. It’s okay. I can do better, but I’ve done my best for this month so it’s best that I kept on striving for the next ones.

What am starting to concern is actually my academic business.

I’ve been entering my class late this whole month. I’m making my college assignments on deadlines. If it’s a Day-1 I’ll just be cool with it but it’s like Hour-1. Such a deadliner.

I’m actually disappointed in myself when one of my lecturers finally scold me and told me to actually go out of the room because I enter the room like 10 minutes before the class ends. In my defense, someone told me that there’s actually 2 sessions of today’s lecture so I’m entering for the second session because I know the first session has passed. Turns out the second session is cancelled and thus that lecturer told me to go out of the class. Bottom line: I don’t go out of the class. I sit at the front and just hears what he has to say for the rest 10 minutes. He’s actually mad when I do that. I can see his eyes flickering and how he decided to not look at me, treating me as if I’m some pest that he doesn’t want to look directly. Oh how bad(stupid)ass I was that time.

Yep, that’s another page of me. I don’t care what people say. I’m doing whatever the hell I want to and I don’t care if you consider me as a pest or not because I still value you as my lecturer if you’re actually teaching in a very nice term and polite way (whoops).

Oh, if you’re wondering, I cried afterwards though. I’m still a girl and I actually regret what I’ve done. So inappropriate. Don’t do it, guys. It’s a bad thing.

So, yeah, am actually not having a very firm grip on my academic stuffs. And to who does I blame all this stuff? Rumah Kepmimpinan? Or Ksatria-Tiara Angkatan 8? Or Bang Bachtiar?

I’m blaming it on myself.

I still can’t manage my time very well and I feel like am not actually trying enough.

Like this morning, I woke up late and I don’t come to my weekly meeting of Kajian Islam Pekanan with kak Ika. I woke up around 9 and I think that’s like logical since I’ve just went to bed at 5 because some dream visualization video of Ksatria-Tiara Angkatan 8. Like 4 hours of sleep is actually not enough. As a public health I’m actually telling people to sleep for 8 hours, not less. And here I am barely sleeping.

The effects are huge. Now I’m actually feeling sorry to kak Ika. I was supposed to give a speech (kultum) on women’s fiqh but now I don’t even attend it. I chat kak Ika to ask some ‘punishment’ since this is purely my own fault. I’m being not careful. Sleep is not a reason. I should’ve control myself more. But, until now, she doesn’t reply when she’s actually online. It’s my bad, my fault, and now I need to deal with this ‘emotional burden’.

And thus, that’s how Rumah Kepemimpinan means to me.

Filled with mistakes and events that every person knows that it’s just too much for a college student with 1001 activities that he/she is actually pursuing. Filled with hope and thoughts that is actually wild and running free to express ourselves. Filled with punishments and burdens that no one actually wants to get in life as in general.

Filled with rainbows of hopes and second chances to fix ourselves. Filled with self-reminders and meaningful events that will keep your heart and mind alive. Filled with life lessons that you can’t get in any other place.

Filled with me. A girl who is still lacking in any kinds of things on she’s trying to pursue. A girl who does whatever she wants. A girl who hated a system more than a punishment. A girl that kept on asking on stuffs that aren’t supposed to be asked. A girl who is trying to hold on along this ride with Ksatria-Tiara Angkatan 8.

A girl who believes that she can and will do better next month.


Asrama Rumah Kepemimpinan
Saturday, October 1st, 2016
12.19 PM

Striving

September 05, 2016

tired

winonsky.sunnypillow

it's kinda weird since right now I'm crying because I'm tired.

academic activities haven't actually begun but now I'm tired.

I got too much things to handle.

I'm afraid.

what should I do.

like now I'm crying because there's literally too much on my plate.

help.

I'm tired.

September 04, 2016

Disco

winonsky.sunnypillow

There's no secret for anyone that I like music.

I'm the kind of person who likes any kind of music if it sounds good to my ear. Catchy, beat, rock, pop, screamo, I'm fine as long it sounds cool.

Then one day, I found myself dancing to the music at my dorm room and I kinda do a twirl and then I stopped for a moment and looked at the mirror. I stared at myself, realizing how foolish I was looking and laughed it anyway.

I kinda then think to myself about how people at the disco was dancing like whacko with beatful music like the ones that I was listening (it was Closer by The Chainsmoker ft Hayley by the way haha). What made them dance? What made them go to the disco?

Then I kinda shut myself when I figured what's the problem: Alcohol.

Everything seems to be fun with alcohol, right?

Many of my foreign friends kept saying "we need a drink after this" "I'm not sober enough for this" "where's the alcohol, I need some fun" or other stuffs related to alcohol. For them, by being not sober then they could be having fun acting like weirdos and dance as crazy as they want.

Cause honestly if you ever went to a disco the situation isn't as delighted as in the movies.

Thanks to Allah I was given an opportunity to actually went to a disco. One of my life goals are achieved lol.

It was hot because the ventilation was so soaked. The air conditioner can't do a good job since there's so much lights and movements of the people who were dancing and producing sweats. My ears felt a bit cramped because how high the stereo was playing those dubstep songs. I must say, it sounds good, on my earphone. On the stereo and with that high voice, it sounds like crap.

But idk tho that's what I'm feeling when I entered and spend 4 hours there for something haha.

So yeah, alcohol and music does match for a disco situation type.

And I don't know how to end this post.

Oh well haha.

Asrama Rumah Kepemimpinan
Sunday, 4th September 2016
18.32
Confused

September 03, 2016

Magenta

winonsky.sunnypillow

Hari yang kita lalui bersama
Di Bulungan tercinta
Kulepaskan semua rasa
Memang kita berbeda-beda
Kita tetaplah keluarga
Kavaleri Kaversa

Disini engkau disana
Asal kita bersama
Tak pernah bisa berpisah
Lama atau lebih lama
Asal kita bersama
Tak pernah bisa berpisah

Karena kita Kavaleri
Karena kita Kaversa
Karena satu salam kita
Salam Magenta

Karena kita berdua
Ucapkan janji setia
Ku tak akan berpisah
Selamanya

Hey, good morning everyone.

I'm going to talk about some things that I thought I would never actually write.
I'm going to talk about my high school moments.

So I don't know why but suddenly I just miss those crazy people and I went to search them on YouTube and I stumbled on this. Go on and check it out then you'll know what I mean.

After that video, I just kept on searching. I changed my LINE profile picture into Kavaleri Kaversa's logo. I just miss them so much. And I don't know why.

You might think that I just miss the high school moments. Well, probably, but it's mostly the people though.

Let me tell you a bit about myself back in high school.

I wasn't the famous girl who's like very pretty or on the cheers or dance or traditional dance squad.
I wasn't the most smartest person whom everyone likes.
I wasn't the nicest person.
I wasn't the richest person either.

Mostly I was selfish and inconsiderate.

It was kind of a change if you know how I was at junior high school. I was those kinda rebels. Not too rebelling though but I was almost gotten into real trouble which could lead me to be dropped out of school.

But then I entered high school and the atmosphere was very different then my junior high school. Everyone at my junior high school was being very smart and rich and stuff while at high school was intimidating and friendly.

How do I put this in words.
Um.

Kavaleri Kaversa is the most fiercest people I've ever met in the whole world.

We're like a group of misfits while trying to fit each other. We stumble and do stuffs together. We do a lot of stuffs. We got scolded together and yet we also scold anyone together(?). We're close and I'm kinda in love with those atmosphere.

But I wasn't 'anak angkatan' nor 'anak non-angkatan'.

I was somewhere in the middle.

I was there for the big moments of Kavaleri Kaversa but I wasn't there for the little ones. I figured that only the big ones mater since those are the moments that'll always be talked over and over. That'll always be the ones to be remembered.

Wrong.

It's the little things that they remember.

And how funny it is that I wasn't there for the slightly little things.

You see, I use to study at private school and when I entered a public school I was shocked that my scores were that low since the curriculum that I learned was very different. Then I just kept on going to cram school every day doing my studies trying to be smart. I was one of those 'ambis' people.

And I already thought that it was pretty. Realizing that I remember more on lessons then memories I share with my friends.

Don't get me wrong, I also share memories with them. But it was the good ones. Not the bad ones. And the bad thing I meant here is not bad but it's kinda against the rules stuff(?).

I was being the Mrs Goody Two Shoes. Did my homework well. Do extracurricular activities. Join competitions. Become known to the teachers. Got good grades.

I didn't actually get the chance to be naughty.

How do I put this.

I didn't 'nongkrong' like an other my friends. Whenever there's something with Kavaleri Kaversa, I always chose to just sit and wait. I don't act. I don't join the festivals or support my friends on the competition. I study. I stay at home. I watch TV. I go to cram school.

You might thing "It's not a big deal, Win. Please you're just being very weirded out by not being that close to some extremely famous friends at the Kavaleri Kaversa circle."

Well you know what? Probably.

But I do know that's not the point.

The point is, I'm missing the fun that they were having.

And I want to know how fun it was.

Because now, when I sing our songs, when I look at our pictures, when I remember the moments, when I pass our school, when I stumble a part of Kavaleri Kaversa, I want to feel the fun again.

I want more fun.

I want more fun with Kavaleri Kaversa.

Asrama Rumah Kepemimpinan
Saturday, 2nd September 2016
1.23 AM






Salam Magenta.

September 02, 2016

RKDiaries - Berbagi Opini dan Pemaknaan

winonsky.sunnypillow

Salam'alaykum!

Selamat siang, semuanya!

Maafkan ya kalau saya semalem galau absurd gajelas. Emang yang namanya perempuan mah alasan untuk galau tuh banyak. Kami punya 1001 cara untuk menjadi baper wkwkwkwkwkwk.

Anyway, kemarin kan RK memberikan kita tugas untuk menulis opini serta pemaknaan asrama. Nah, saya mau share tulisan tersebut disini nih ehehhe.

Silakan dibaca dan silakan dinikmati.



=====================================================================

3R
Udah pada tau kan, ya, 3R itu apa?
Hah? Belom tau? Bohong.
Yaudah lah saya kasih tau lagi aja deh biar enak.
3R itu merupakan sebuah paradigma yang dibuat dalam aspek saling menghormati. Jadi 3R itu adalah Respect to People, Respcet to Time, dan Respect to System (eh ini ngurut gak sih?). Nah 3R ini sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan kita baik pembelajaran ataupun pekerjaan.
Menurut saya, implementasi 3R dalam kehidupan saya itu masih kurang banget.
Saya masih kurang hormat sama orang (terlebih orang yang lebih tua dari saya).
Saya masih kurang hormat sama waktu (silakan tanya kepada seluruh manusia yang mengenal saya bahwa kemungkinan saya datang telat pada suatu acara adala 85%).
Saya masih kurang hormat sama sistem (saya tipe orang yang gak suka diatur gitu jadi makanya suka ngelawan gak tau diri gitu).
Mungkin ini jauh banget dari apa itu sebuah essay opini, namun inilah opini saya terhadap diri saya.
Saya masih kurang banget dalam satu hal 3R ini dan saya masih harus berusaha untuk berubah dari yang kurang banget jadi yang bisa banget gitu. Saya percaya sama perubahan yang berlandaskan sama niat baik. Nah, kalau dalam masalah saya ini, niat dan keinginan bukan lah masalah. Yang jadi masalah implementasi nya.
Saya selalu suka terlena sama nafsu sendiri yang suka impromptu atau absurd atau dadakan kayak kecelakaan (lah). Ya pokoknya saya tuh tipe manusia yang bener-bener suka-suka saya banget deh.
Oleh karena itu, opini terhadap diri ini sendiri suka terkesan keras. Saya suka terlalu menyalahkan diri saya dan kemudian saya suka membela diri saya juga mati-matian. Saya manusia kontradiktif, dan saya sadar akan hal itu. Dan saya ingin berubah, namun saya tak kunjung berubah.
Dimana salahnya? Di diri saya sendiri. Saya yang kelewat mager makanya begini mulu.
Makanya, ayo segera berubah biar menjadi lebih baik sepeti teman-teman Tiara lainnya. Saya yakin kamu bisa berubah dari manusia kontradiktif jadi manusia xxxxxxxxxxx (isi sendiri kata-katanya saya belum dapet soalnya wkwk).
Yasudah, ayo diluruskan kembali niatnya ya, Win.
Bismillah..
Asrama Rumah Kepemimpinan
Kamis, 1 September 2016

19.58


=====================================================================

Kurang Briefing
Rumah Kepemimpinan mengajarkan saya satu hal selama satu bulan ini:
            Kalau kalian kurang briefing maka hasilnya juga gak bagus-bagus amat.
Bulan Agustus 2016 merupakan bulan yang baru bagi kehidupan saya. Memasuki sebuah asrama yang agak cukup ekstrem dengan segala bentuk aktivitas serta alat bantu yang program pembinaan seperti ‘Idealisme Kami’, jas eksklusif yang terlalu besar untuk para kaum hawa, atau beberapa hal lainnya, merupakan bukanlah sebuah fase yang akan dilewati oleh setiap manusia yang ada di bumi ini. Ya, mungkin kalian berpikir saya spesial. Enggak, saya gak spesial. Saya bukan martabak yang pake telor bebek dua yang isinya daging cincang yang gak jelas dari mana itu, bukan. Saya disini cuman ditakdirkan untuk melewatkan program yang tidak semua orang bisa ikut ini.
Oke, balik lagi. Mohon maaf ya sebelumnya kalau misalnya agak ngalor-ngidul gitu soalnya saya sendiri kalau nulis atau ngomong atau mikir itu suka loncat-loncat gak jelas gitu. Saya gampang terdistraksi. Ada kucing, dikejar kucingnya. Ada makanan nganggur, dicomot. Ada pendaftaran beasiswa berasarama, saya ikutan daftar aja  (nahyolo asrama apa ini).
Tuhkan mulai loncat-loncat lagi.
Ehem.
Nah, maksudnya kurang briefing disini tuh apa sih?
Jadi, menurut saya, selama satu bulan di Asrama Rumah Kepemimpinan Tiara Angkatan 8 ini, masalah yang selalu ditemukan oleh setiap subjek yang saya temui adalah pasti satu itu doang. Kekurangan briefing. Mau dari diri saya sendiri, temen sekamar, temen asrama, Ksatria 8, pembina, satpam, dan mungkin subjek lain yang gak kesebut.
Kalau dari diri saya sendiri tuh ya waktu itu saya jadi pembina tapi dadakan gitu kayak tahu bulat. Yaudah, sambil setengah nahan tawa, seperempat mata mengantuk, dan seperempat pikiran yang bingung mau menyampaikan amanat macam apa, saya berdiri didepan pemimpin apel sambil mengikuti jalan apel. Terus taunya saya udah disuruh kasih amanat. Tanpa pikir panjang langsung aja salam, ngecek suara (“Apakah yang disebelah sana mendengar suara saya?”), akhirnya saya menyampaikan amanat saya mengenai insiden Ksatria yang super telat dateng apel pagi itu. Di otak saya sih udah ke atur tuh awal-awal bilang abis NLC terus mau apresiasi kita menang haflah terus baru deh kecewa kenapa telat terus bilang diakhir kalau gapapa telat yang penting jangan lupa memperbaiki diri. Eh, emang dasar manusia kalau kekurangan briefing plus gak fokus plus ngantuk plus diketawain sama Radhiyan Pribadi Pasopati didepan semua orang, yaudah saya jadinya tidak menyampaikan sedikit pun apa hal yang sudah saya siapkan dalam otak saya. Kurang briefing banget. Alhasil, pas evaluasi, Fuadil Azam (eh bener gak sih ini nama panjang dia-.- maafkan Fuad kalau salah) menyampaikan ketidaksukaan dia terhadap cara penyampaian saya, Wah seru dah tuh mengundang konflik, saya jadinya tersulut api sikap defensive dari perbuatan yang udah jelas memang saya lakukan itu. Tapi tenang aja abis itu langsung baikan kok. InsyaAllah yang beginian gak keulang lagi ya kawan-kawan Tiara-Ksatria 8 Regional 1 Jakarta kuh. Semut tuh gak berantem tapi semut tuh berkerja sama (ntaps).
Terus kekurangan briefing lainnya adalah dari kelakuan para saudari Tiara ku YANG SUKA LUPA MATIIN LAMPU KETIKA UDAH GAK DI PAKAI. Tolong ya guys kita hemat energy. Katanya pemimpin muda tapi reserving energy aja masa susah sih…. Tinggal diteken doang kok nanti lampunya mati, gak susah kan ya? Sama halnya kayak CUCIAN PIRING, JEMURAN BAJU, PELAKSANAAN PIKET, terus apalagi ya aduh saya lupa tapi ya intinya gitu. Ini Tiara dirasa kurang briefing untuk hemat energy dan berperilaku cinta kebersihan. Tetapi tak apa kita belajar bareng lagi ya disini biar makin cinta sama bumi kita ini.
Kekurangan briefing selanjutnya (dan yang terakhir juga soalnya udah mau jam 8 terus ada satu tugas lagi yang belom) adalah dari pembina tercinta. Saya gak ngerti in kesalahan dari pusat atau Bang Fathan atau Kang Imam atau Muffin tapi yang jelas kalau ngasih tugas bulanan bukan berarti diberikan diakhir bulan kan kakak-kakakku tercinta?! Kusayang kalian tapi kalau setiap bulan diginiin aku gabisa terus-terusan begadang buat memikirkan aku mau menikah umur berapa tinggal dimana punya anak berapa. Aku gak masalah banget seriusan tugasnya banyak cuman tenggat waktunya diperbanyak. Aku tipe orang yang nyicil, kak. Aku juga udah nanya sama Muffin waktu itu ada tugas apa enggak terus kata Muffin kayaknya buat bulan ini belum ada. Terus ternyata ada. Yaudah gapapa toh tugasnya bermanfaat juga kok aku senang. Diajarin kerja cerdas bukan kerja keras (uwaw materi pak Sandiaga Uno).
Duh kok jadi kayak evaluasi begini ya huehehe.
Ya pokoknya, saya masih beradaptasi banget di asrama ini. Konflik sama teman sudah ada. Konflik sama supervisor insyaAllah gak akan ada (AAMIINNN YA ALLAH AMIN. KU TAK MAU MUFFIN SEDIH KARENA AKU). Konflik sama satpam udah sekali. Konflik sama tangga karena tinggi amat itu hampir setiap hari.
Nah, tapi, mau berbagai macam konflik apapun yang akan datang, saya termasuk orang yang percaya kalau konflik merupakan pertanda kehidupan. Kalau gak ada konflik mana berwarna hidup coba. Seragaman. Monokrom. Membosankan. Kalau curhat gak seru wkwkwk.
Tapi ya tetep aja saya juga peace enthusiast jadi konflik tuh perlu buat bonding yang kuat diantara kita gitu wkwk. Mungkin konflik saya sama Rumah Kepemimpinan buat bulan ini hanyalah kekurangan briefing saja namun insyaAllah konflik ini juga yang akan memperkuat hubungan kita.
Bismillah, semoga saya, Tiara, Ksatria, Pembina, dan Rumah Kepemimpinan bisa berkembang bersama-sama demi Indonesia yang lebih baik lagi.
Asrama Rumah Kepemimpinan
Kamis, 1 September 2016

19:46


====================================================================

Okedeh udah segitu doang tulisannya wkwkwkwk. Masih sampis banget sih ya namanya juga deadliners ya jadi kurang bagus dan bertata gitu. Gitu dah pokoknya.

Maaf ya kalau absurd wkwkwk.

Semangaaatttt!!

Asrama Rumah Kepemimpinan
Jumat, 2 September 2016
11,.56